Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Karia’a (Studi Pada Masyarakat Desa Sombu Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi)

Authors

  • Erdin Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Kendari, Indonesia
  • Ardianto Aziz Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Kendari, Indonesia
  • Ahmad Rais Tomo Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Kendari, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.51454/religi.v2i1.714

Keywords:

Tradisi Karia, Nilai Pendidikan Islam, Pengajaran Agama

Abstract

Pendidikan dalam Islam tidak hanya terbatas pada pengajaran agama, tetapi juga mencakup aspek-aspek kehidupan lainnya seperti moralitas, etika, dan tata cara berinteraksi dengan lingkungan sosial. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui prosesi dalam tradisi karia masyarakat desa sombu kecamatan wangi-wangi kabupaten wakatobi. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan islam yang terdapat dalam tradisi karia masyarakat desa sombu kecamatan wangi-wangi kabupaten wakatobi. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini yaitu tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyaarakat. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada pelaksanaan karia’a memiliki beberapa tahapan atau proses. Pertama yaitu musyawarah menentukan siap yang menjadi tuan rumah, proses kedua yaitu heporukua atau lebih dikenal sebutan hesofui pakili (mandi suci), proses ketiga hekire (mencukur bulu halus pada alis dan ubun ubun), keempat yaitu karia (sunat) anak-anak akan di syahadatkan kemudian di nasehati, kelima lemba’a nu kansoda’a (mengangkat tandu) anak akan diarak-arakan dari ujung kampung keujung kampung, dan terakhir manga poga’a-ga’aka. Dilakukan setelah 7 hari acara karia’a sudah dilakukan sebagai bentuk perpisahan antara beberapa peserta karia. Nilai-nlai Pendidikan Islam yang terdapat pada tradisi karia’a yaitu pada prosesi hesofuia atau bersuci (thaharah), pengucapakan dua kalimat syahadat atau disebut dengan pembentukan akidah, Setelah itu proses ndou-ndou atau memberikan nasehat kepada anak-anak yang telah melakukan atau melaksanakan rangkaian prosesi karia. Kemudian terakhir proses berlangsungnya muamalah atau hubungan antar sesama manusia.

References

Asep Muhyiddin, M. Ag. Dan Agus Ahmad Safei, M. Ag. Metode Pengembangan Dakwah, Bandung Pustaka Setia 2002

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Ed. VI; Cet. 1; Jakarta: PT. Gramedia)

Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)

J. Moleong Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010)

La Bolo, Tokoh Agama, Wawancara, tanggal 26 Februari 2024.

Muhajir Neong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet. Ke-1, (Yogyakarta, 2003)

Syukriansyah et al. Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Tradisi PotapakiAdat Pamondo Perkawinan Pada Masyarakat Desa Kulati Kecamatan Tomia Timur Kabupaten Wakatobi. Jurnal SELAMI IPS Vol. 14, No. 1, Januari 2021.

Sariono, Tokoh Adat, Wawancara, tanggal 26 Februari 2024.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung, Alfabeta, CV. 2013)

Tri Prasetya Joko, Dkk., Ilmu Dasar Budaya, (Jakarta: Pt Rineka Cipta 2014)

Downloads

Published

2024-08-05

How to Cite

Erdin, Aziz, A., & Tomo, A. R. (2024). Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Karia’a (Studi Pada Masyarakat Desa Sombu Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi). RELIGI: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(1). https://doi.org/10.51454/religi.v2i1.714